Jumat, 25 Mei 2012

makalah sosiologi tentang interaksi simbolik



I.       PENDAHULUAN
Interaksionisme simbolis: Masyarakat sebagai konversasi (kontak lisan), pusat perkembangannya di departemen sosiologi Universitas chicago, sekitar tahun 1920-an diantara para pemikir yang menemukan teori tersebut, adalah Robert Park dan W.I. Thomas. Pendekatan melukiskan tentang Pragmatisme dari madhab filsafat Amerika yang unik, mengenai penafsiran sosiologi terhadap ekologi (studi tentang organisme dan lingkungannya) dan tentang metode-metode lapangan yang dikembangan oleh antopologi, Demikian juga ahli interaksionis akan menemukan dan tinggal bersama suatu kelompok sosial di negerinya sendiri. Sebagai penemu dan sekaligus dipandang ahli utama teori ini adalah George Herbert Mead. Semua diskusi modern tentang pendekatan ini menempatkan Mead di tempat yang sentral dan ketidak sengajaan yang telah di tunjukkan (penulis buku) merupakan ilustrasi yang paling baik dengan kenyataan bahwa karya pokoknya, yakni Mind, Self, dan Society, yang dikompilasinya dari catatan-catatan kuliah mahasiswanya setelah meninggal.
Interaksionisme simbolis yang mana hal ini melibatkan separangkat asumsi tentang aktor sosial: ia membuat pilihan-pilihan antara tujuan-tujuan itu dalam suatu situasi baik mengenai objek fisik maupun sosial untuk yang terakhir ini termasuk didalamnya norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural. Proses pelembagaan (institusionalisasi) mencakup pelaku-pelaku (aktor) yang menyesuaikan tindakan-tindakan mereka satu sama lain yang memberikan kepuasaan timbal balik dan kalau hal ini berhasil tindakan-tindakan tadi berkembang menjadi suatu pola mengenai status-status peranan- suatu struktur peran.
II.     PERMASALAHAN
A. Pengertian Interaksionisme Simbolik dan Akar Historis Utama
B. Ide-ide George Herbert Mead
C. Prinsip-prinsip Dasar Interaksionisme Simbolik
D. Menuju Interaksionisme Simbolik yang Makin Sintetik dan Intregatif



III.  PEMBAHASAN

A.    Interaksionisme Simbolik yaitu seperti yang sudah kita bahas di dalam
Pendahuluan di atas, bahwasannya suatu proses pelembagaan  (Institusionalisai) mencakup pelaku-pelaku (actors) yang meneyesuaikan tindakan-tindakan mereka satu sama lain yang memberikan kepuasan timbal-balik dan kalau hal ini berhasil tindakan-tindakan tadi berkembang menjadi suatu pola mengenai status-status peranan-suatu struktur peran. Interaksionisme Simbolik yaitu dimana dalam proses interaksi sosial, manusia secara simbolik mengomunikasikan arti terhadap orang lain yang terlibat.
Orang lain menafsirkan simbol komunikasi itu dan mengorentasikan tindakan balasan mereka berdasarkan penafsiran mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial para aktor terlibat dalam proses saling memengaruhi. Akar Historis Utama:
o   Pragmatisme adalah pemikiran fisafat yang meliputi banyak hal ada bebrapa aspek pragmatisme yang memengaruhi oreantasi sosiologi yang dikembangkan oleh Mead (charon:2000; joas, 1993).
Pertama menurut pemikir pragmatisme, realitas sebenarnya tak berada “di luar” dunia nyata, “realitas diciptakan secara aktif ketika kita bertindak di dalam dan terhadap dunia nyata”.
Kedua, manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka mengenai dunia nyata pada apa yang telah terbukti bagi mereka.
 Ketiga, manusia mendefinisikan “objek” sosial dan fisik yang mereka temui di dunia nyata menurut kegunaanya bagi mereka.
Keempat, bila kita ingin memahami actor, kita harus mendasarkan pemahaman itu di atas apa-apa yang sebenarnya mereka kerjakan dalam dunia nyata. Ada 3 hal yang penting bagi interaksionisme simbolik :
 - Memusatkan perhatian pada interaksi antara aktor dan dunia nyata.
 - Memandang baik actor maupun dunia nyata sebagai proses dinamis dan bukan sebagai struktur yang statis.
 - Dan arti penting yang dihubungkan kepada kemampuan aktor untuk menafsirkan poin terakhir adalah paling menonjol dalam karya filosof pragmatis John Dewey.
Ada 2 pembedaan dalam argument cabang pragmatisme:
 -“realisme filosofis” (dihungkan oleh Mead) dan “pragmatisme nomalis”(dihubungkan dengan Dewey dan james).
 –Menurut pandangan mereka, interaksionisme simbolik lebih banyak di pengaruhi oleh pendekatan nomalis dan bahkan tak konsisten dengan pemikiran filsafat realisme.
 –Sebaliknya, Pemikir realisme sosial menekankan pada masyarakat dan cara terbentuknya, dan cara masyarakat mengontrol proses mental individual.
o   Behaviorisme, Lewis dan smith menafsirkan bahwa Mead dipengaruhi oleh behaviorisme psikologis, sebuah perspektif yang juga membawanya ke arah realis dan empiris.
Mead sebenarnya menyebut basis pemikirannya sebagai behaviorisme sosial untuk membedakannya dari behaviorisme radikal dari john B. watson (salah seorang murid Mead). Mead dan behavioris radikal juga berbeda pandangan mengenai hubungan antara perilaku manusia dan perilaku binatang, sementara behavioris radikal cenderung melihat tak ada perbedaan antara perilaku manusia dan binatang, sedangkan Mead menyatakan adanya perbedaannya adalah bahwa manusia mempunyai kapasitas mental yang memungkinkannya menggunakan bahasa antara stimulus dan respon untuk memutuskan bagaimana cara merespon. Charles Morris dalam pengantarnya untuk buku Mead, Mind, Self and Society menyebutkan satu persatu tiga perbedaan mendasar antara Mead dan Watson;


Pertama, Mead menganggap pemutusan perhatian Watson terhadap perilaku terlalu disederhanakan. Karena itu ia menuduh watson merenggut perilaku keluar dari konteks sosialnya yang lebih luas. Mead ingin memperlakukan perilaku sebagai bagian kecil dari kehidupan sosial yang lebih luas. Kedua, Mead menuduh Watson tak berkeinginan memperluas behavioris ke proses mental, Watson dianggap tak memahami proses mental dan kesadaran actor. Mead membandingkan perspektifnya dengan perspektif Watson: “Perspektif saya adalah perspektif behavioristik; tetapi berbeda dengan behavioris watsonian, perspektif saya mengakui bagian yang tak dapat diamati secara external. Terakhir, karena watson menolak variabel pikiran, Mead memandangnya mempunyai citra pasif tentang actor sebagai boneka. Mead sebalikya mempunyai citra yang jauh lebih dinamis dan kreatif tentang actor dan inilah yang menyebabkannya menarik perhatian penganut interaksionis-simbolik kemudian.
B.      Ide-ide George Herbert Mead

Dalam resensinya atas buku Mead, Mind, Self, and society faris menyatakan preferensi Mead mungkin bukan pikiran dan kemudian baru masyarakat, tetapi masyarakatlah yang pertama dan kemudian baru pikiran yang muncul dalam masyarakat. Menurut mead, keseluruhan sosial mendahului pemikiran individu baik secara logika maupun secara temporer. Individu yang berfikir dan sadar diri adalah mustakhil secara logika menurut teori Mead tanpa didahului adanya kelompok sosial. Kelompok sosial muncul lebih dulu dan kelompok sosial menghasilkan perkembangan keadaan mental kesadran diri. Mead mengidentifikasikan empat basis dan tahap tindakan yang saling berhubungan, keempat tahap itu mencerminkan satu kesatuan organik, Mead selain tertarik pada kesamaan tindakan binatang dan manusia, juga terutama tertarik pada perbedaan tindakan antara kedua jenis makhluk itu. Implus. Tahap pertama adalah dorongan hati/implus (impulse) yang meliputi rangsangan spontan yang berhubungan dengan alat indera, dan reaksi aktor terhadap rangsangan, kebutuhan untuk melakukan sesuatu terhadap rabgsangan itu, rasa lapar adalah contoh yang tepat dari implus. Persepsi. Aktor menyelidiki bereaksi terhadap rangsangan yang berhubungan dengan implus, dalam hal ini rasa lapar dan juga berbagai alat yang tersedia untuk memuaskannya. Manusia mempunyai kapasitas untuk merasakan dan memahami stimuli melalui pendengaran, senyuman, rasa, dan sebagainya.
Manipulasi. Tahap ketiga adalah manipulasi. Segera setelah implus menyatakan dirinya sendiri dan objek telah dipahami, langkah selanjutnya adalah manipulasi objek atau mengambil tindakan berkenaan dengan objek itu. Disamping keuntungan mental, manusia mempunyai keuntungan lain ketimbang binatang. Konsumasi. Yakni tahap keempat tindakan, pelaksanaan/konsumasi atau mengambil tindakan yang memuaskan dorongan hati yang sebenarnya. Baik manusia maupun binatang mungkin memakan cendawan, tetapi manusia lebih kecil kemungkinan memakan cendawan beracun karena kemampuannya untuk memanipulasi cendawan dan memikirkan mengenai implikasi dari memakanya.

o   Sikap-isyarat (Gestur)
 Gestur adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan (secara sosial) yang tepat dari organisme kedua. Berikut ini adalah contoh terkenal Mead tentang perkelahian aning dilihat dari perspektif isyarat:
“Tindakan masing-masing anjing menjadi rangsangan untuk anjing lain dalam memberikan tanggapannya, fakta juga menunukkan bahwa anjing yang siap menyerang anjing lain akan menjadi rangsangan bagi anjing lain itu untuk mengubah posisi atau sikapnya. Begitu perubahan sikap ini terjadi dipihak anjing kedua, maka anjing pertama pun mengubah sikapnya”. Mead menanamkan apa yang terjadi dalam situasi ini sebuah “percakapan isyarat”. Gerak isyarat anjing pertama secara otomatis mendapatkan gerak isyarat dari anjing kedua, tak ada proses berfikir yang terjadi di kedua belah pihak anjing itu. Manusiapun kadang-kadang terlibat dalam percakapan isyarat tanpa pikir seperti itu. Contohnya dalam pertimbangan tinju dan anggar dimana banyak tindakan dan reaksi yang terjadi dimana seorang petarung “secara naluriah” menyesuaikan diri terhadap tindakan petarung kedua. Tindakan tanpa disadari seperti itu disebut Mead sebagai isyarat “nonsignifikan” apa yang membedakan manusia dari binatang adalah kemampuannya untuk menggunakan gerak isyarat yang signifikan atau memerlukan pemikiran di kedua belah pihak aktor sebelum beraksi.
Isyarat suara sangat penting perannya dalam pengembangan isyarat yang signifikan. Namun, tak semua isyarat suara adalah signifikan, kekhususan manusia dibidang isyarat (bahasa) ini pada hakikatnya yang bertanggung jawab atas asal mula pertumbuhan masyarakat dan pengetahuan manusia sekarang dengan seluruh kontrol terhadap alam dan lingkungan dimungkinkan berkat ilmu pengetahuan.
o   Simbol-simbol Signifikan
Simbol signifikan adalah sejenis gerak isyarat yang hanya dapat diciptakan manusia. Isyarat menjadi simbol signifikan bila muncul dari individu yang membuat simbol-simbol itu sama dengan sejenis tanggapan (tetapi tak selalu sama) yang diperoleh dari orang menjadi sasaran isyarat. Jadi disini dapat disimpilkan simbol-simbol signifikan itu ada 2, yaitu: Simbol Bahasa dan Simbol Isyarat Fisik: -fungsi bahasa atau simbol yang signifikan pada umumnya adalah menggerakkan tanggapan yang sama dipihak individu yang berbicara dan juga dipihak lainya. Pengaruh lain dari bahasa merangsang orang yang berbicara dan orang yang mendengarnya. –Simbol isyarat fisik, menciptakan peluang diantara individu yang terlibat dalam tindakan sosial tertentu dengan mengacu pada objek atau objek-objek yang menjadi sasaran tindaka itu, dengan demikian muka yang cemberut yang tak disengaja mungkin dibuat untuk mencegah seorang anak kecil teralu dekat ditepi jurang dan dengan cara demikian mencegahnya berada dalam situasi yang secara potensial berbahaya.
o   Pikiran (Mind)
 Didefinisikan Mead sebagai proses percakapan seorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan didalam diri individu; pikiran adalah fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian intregal dari proses sosial. Dan karakteristik istimewa dari pikiran adalah kemampuan individu untuk “memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan, itulah yang kita namakan pikiran”.
o   Diri (Self)
 Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek, untuk mempunyai diri, individu harus mampu mencapai keadaan “diluar dirinya sendiri” sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu menjadi objek bagi dirinya sendiri. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba memeriksa diri sendiri secara impersonal, objektif, dan tanpa emosi. Mead mengidentifikasi dua aspek atau fase diri, yang ia namakan “I” dan “Me”. Mead menyatakan, diri pada dasarnya diri adalah proses sosial yang berlangsung dalam dua fase yang dapat dibedakan, perlu diingat bahwa “I” dan “M” adalah proses yang terjadi di dalam proses diri yang lebih luas, keduanya bukanlah sesuatu (things).


o   Masyarakat
Pada tingkat paling umum, Mead menggunakan istilah masyarakat (society) yang berarti proses sosial tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri. Masyarakat penting perannya dalam membentuk pikiran dan diri.di tinggat lain, menurut Mead, masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil alih olehindividu dalam bentuk “aku”(me).
C.    Prinsip-Prinsip Interaksionisme Simbolik
Ada beberapa perbedaan signifikan dalam interaksionisme simbolik, sebagai berikut, beberapa tokoh interaksionisme simbolik (Blumer, 1969a, Manis dan Meltzer, 1978;Rose, 1962;Snow,2001) telah mencoba menghitung jumlah prinsip dasar teori ini, yang meliputi:
a)      Tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berfikir.
b)      Kemampuan berfikir dibentuk oleh interaksi sosial
c)      Dalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berfikir mereka yang khusus itu.
d)     Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan khusus dan berinteraksi
e)      Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka tahap situasi
f)       Manusia mampu membuat kebijakan modifikan dan perubahan, sebagaian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan kemudian memilih satu diantara serangkaian peluang tindakan itu.
g)      Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok dan masyarat.
Kapasitas berfikir. Pikiran menurut intersionisme simbolik, sebenarnya berhubungan dengan setiap aspek lain termasuk sosialisasi, arti, simbol, diri, interaksi dan juga masyarakat.
Berfikir dan berinteraksi. Manusia yang hanya memiliki kapasitas umum untuk berfikir, kapasitas ini harus dibentuk dan diperluas dalam proses interaksi sosial. Pandangan ini menyebabkan teoritisi interaksionisme simboloik memusatkan perhatian pada bentuk khusus interaksi sosial yakni, sosialisasi dan bagi teoritisi simbolik adalah proses yang lebih dinamis yang memungkinkan manusia mengembangkan kemampuan untuk berfikir, untuk mengembangkan cara hidup manusia tersendiri. Sedangkan interaksi adalah proses dimana kemampuan berfikir dikembangkan dan diperlihatkan. Blummer (mengikuti Mead) membedakan dua bentuk interaksi yang relevan dikemukakan disini, pertama: interaksi nonsimbolik, percakapan atau gerak isyarat menurut Mead tidak melibatkan pemikiran. Kedua: interaksi simbolik memerlukan proses mental. Karya Erving Goffman, karya terpenting tentag diri dalam interaksionisme simbolik adalah Presentation of self in everyday life oleh Evring Goffman, konsep Goffman sangat dipengaruhi oleh pemikiran Mead, khususnya dalam diskusinya mengenai ketegangan antara diri spontan, “I” dan “me”diri yang di atasi oleh kehidupan sosial. Ketegangan ini tercermin dalam pemikiran Goffman tentang apa yang disebutnya” ketaksesuaian antara diri manusiawi kita dan diri kita sebagai hasil proses sosialisasi. Goffmen memusatkan perhatian pada pelaksanaan audiensi sosial dengan diri sendiri ini. Dalam hal ini Goffman membangun konsep Dramartugi atau pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukan drama, seperti yang ditampilkan di atas pentas.
D.    Menuju Interaksionisme Simbolik yang Makin
Sintetik dan Intregatif ketika berkembang berdasarkan arahan blumer, interaksionisme simbolik jelas bergeser ke arah analisis mikro. Penekanan pada analisis Mikro sebenarnya bertolak belakang dengan maksut dengan judul buku Herbert Mead , selain upaya terus menerus menyintensiskan karya dalam interaksionisme simbolik dan pula upaya mendefinisikan kembali pemikiran utama Mead karena mempunyai oreantasi yang lebih intregatif ketimbang yang dibayangkan orang. Seperti terlihat sebelumnya, meski Mead kurang memperhatikan fenomena tingkat makro, namun dalam pemikirannya mengenai pikiran, diri, dan masyrakat, banyak hal yang menunjukkan adanya intregasi teori sosiologi.

IV. KESIMPULAN
Interaksionisme Simbolik yaitu dimana dalam proses interaksi sosial, manusia secara simbolik mengomunikasikan arti terhadap orang lain yang terlibat. Orang lain menafsirkan simbol komunikasi itu dan mengorentasikan tindakan balasan mereka berdasarkan penafsiran mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial para aktor terlibat dalam proses saling memengaruhi.
. Prinsip-Prinsip Interaksionisme Simbolik
a)      Tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berfikir.
b)      Kemampuan berfikir dibentuk oleh interaksi sosial.
c)      Dalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berfikir mereka yang khusus itu.
d)     Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan khusus dan berinteraksi.
e)      Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka tahap situasi.
f)       Manusia mampu membuat kebijakan modifikan dan perubahan, sebagaian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan kemudian memilih satu diantara serangkaian peluang tindakan itu.
g)      Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok dan masyarat.

V. PENUTUP                                                   
Demikianlah makalah yang dapat saya susun. Saya sadar makalah ini banyak kekurangan dan kesalahan. Untuk itu saran yang membangun sangat saya harapkan untuk perbaikan makalah yang selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin...    
DAFTAR PUSTAKA
Ritzer, George, Teori Sosiologi Modern, Kencana, 2007
Baut, S. Paul, Effendi, T, Teori- Teori Sosiologi Modern, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta 14240






Tidak ada komentar: